TOK! INDONESIA RESMI RESESI TAHUN INI. APA PENYEBAB DAN DAMPAKNYA?

Share

Sektor perekonomian menjadi salah satu sektor yang paling berpengaruh di dalam kestabilan suatu negara. Kabar mengejutkan datang dari sektor perekonomian di Indonesia. Berdasarkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal ke-III tahun 2020 minus sebesar 3,49%. Hal ini menjadi kedua kalinya bagi Indonesia di mana Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mengalami penurunan. Di kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi juga mengalami penurunan sebanyak -5,32%. Kondisi tersebut menyebabkan  Indonesia masuk ke dalam masa resesi karena pertumbuhan ekonomi minus sebanyak dua kali berturut-turut.

Menurut Biro Riset Ekonomi Amerika Serikat (NBER), resesi merupakan penurunan pergerakan ekonomi yang terjadi dalam beberapa kuartal yang dapat di lihat melalui PDB riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan barang/jasa.  

Seperti resesi pada kuartal ke-III ini, terlihat konsumsi rumah tangga, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), ekspor, dan impor mengalami kontraksi. Satu-satunya yang berkontribusi positif terhadap PDB yaitu konsumsi pemerintah yaitu sebesar 9,76%.

Tentunya, penyebab utama resesi ini karena adanya pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal tahun 2020 menyebabkan penurunan daya beli konsumen sehingga menurunkan produktivitas para produsen. Di lansir dari detik.com, dampak nyata yang bisa dirasakan yaitu seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 1.800 karyawan pabrik sepatu di Cikupa, Tangerang. Selain itu, hal serupa juga di alami oleh karyawan pabrik sol sepatu dan pengecoran di Kudus. Puluhan karyawannya juga dirumahkan akibat berkurangnya pesanan.

Dampak dari resesi memang tak main-main. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal mengatakan bahwa meskipun resesi tak berarti selalu berujung krisis, jika terjadi dalam waktu yang panjang misalnya satu tahun, dapat menjadi depresiasi ekonomi. Indonesia memang sedang di situasi darurat perekonomian saat ini. Namun, melihat grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia ternyata lebih baik dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Singapura mencatat kontraksi sebesar 13,3 persen pada kuartal II/2020 dan minus 7 persen pada kuartal III/2020. Malaysia mengalami kontraksi 17,1 persen yoy, sedangkan Thailand minus 12,2 persen secara tahunan.  Selain itu, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali mengalami penurunan di kuartal ke-III 2020, angka persenannya masih lebih baik dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, yaitu -5,32% sehingga kuartal-kuartal selanjutnya diharapkan semakin membaik. Lebih lanjut, Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo mengatakan, perekonomian di kuartal III-2020 diharapkan menjadi titik balik dari pemulihan ekonomi.

Maka dari itu, tentunya masih ada harapan bagi Indonesia untuk memulihkan ekonomi di masa mendatang mengingat vaksin Covid-19 sudah ditemukan. Semoga pandemi lekas berlalu ya.