BAGAIMANA KONDISI PARIWISATA DI TENGAH PANDEMI?

Share

Pandemi virus corona rupanya telah berdampak pada beberapa sektor, salah satunya pada sektor pariwisata. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari narasumber Sedata.id yaitu seorang CEO sekaligus founder bisnis pariwisata bernama Travelxism, mengaku bahwa pandemi benar-benar memberikan dampak yang cukup signifikan pada sektor pariwisata. Apa saja dampaknya?

Di dunia, kerugian yang dialami oleh sektor pariwisata sudah mencapai sekitar 800 juta hingga 1,1 miliar dollar AS. Juga, sekitar 100 juta hingga 120 juta pelaku-pelaku usaha pariwisata sangat terpapar resiko akibat pandemi. Di Indonesia sendiri, kita telah kehilangan 140 triliun rupiah dari sektor pariwisata. Occupancy hotel juga menurun akibat banyaknya jadwal penerbangan yang dibatalkan. Beralih ke sisi lain, terdapat pula lebih dari tujuh ribu pelaku wisata arum jeram dirumahkan. Bahkan, ada beberapa pelaku pariwisata yang berubah haluan menjadi driver ojek online karena tidak adanya harapan jika tetap menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata.

Di Yogyakarta, kita telah kehilangan pendapatan lebih dari 80 miliar rupiah pada sektor pariwisata. 

Lalu tantang apa saja yang dihadapi oleh sektor pariwisata saat pandemi? 

CEO Travelxism mengatakan bahwa pihak-pihak pariwisata harus lebih kreatif dalam mengembangkan bisnis pariwisatanya, seperti misalnya memiliki beberapa market sekaligus sehingga apabila ada satu market yang sama sekali tidak bisa berjalan akibat pandemi, maka kita masih bisa bergantung pada market yang lain. Travelxism sendiri telah mengembangkan market baru selama pandemi yaitu virtual tour. Mengingat, pada pandemi saat ini semua serba virtual, maka sudah sebaiknya untuk dimanfaatkan dalam pengembangan bisnis pariwisata pada era pandemi. 

Lalu destinasi wisata manakah yang perlu dikunjungi saat virtual tour? Bukankah semua tempat pariwisata ditutup? 

Virtual tour dapat mengadakan kunjungan ke sektor yang memang membutuhkan promosi secara online seperti misalnya institusi pendidikan yang kebanyakan targetnya adalah universitas di dunia. 

Pemerintah sendiri sudah mengambil tindakan untuk menyelamatkan sektor pariwisata dengan perlahan membuka sektor pariwisata, contohnya seperti wisata Borobudur. Walau sudah dibuka, namun pariwisata Borobudur tetap menjaga protokol kesehatan, juga adanya larangan untuk menaiki candi Borobudur hingga bagian pelataran. Apabila diperbolehkan, maka dengan syarat bahwa kita harus menyewa guide atau pendamping untuk naik ke pelataran candi Borobudur.    Dengan adanya guide, kita juga akan lebih teredukasi karena selain menemani mengelilingi Borobudur, guide juga akan menjelaskan tentang sejarah Borobudur secara detail. 

Beralih ke pembahasan terkait upaya yang perlu dilakukan guna menyelamatkan tiap individu yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata, para penggiat sektor usaha dapat membuat diferensiasi produk dan diferensiasi pendapatan seperti yang telah dilakukan oleh Travelxism dengan membuat layanan travel consultant, pelatihan sumber daya manusia di destinasi pariwisata, media production secara digital, juga membuat paket tour dan sustainable tour. Dengan memiliki banyak produk, maka kita bisa mengembangkannya agar produk-produk tersebut tetap bisa berjalan ditengah pandemi contohnya seperti mengganti paket physical tour menjadi virtual tour. Juga, pelatihan yang kemudian diubah menjadi online training

Selain itu, Travelxism juga berupaya untuk melakukan “rembug online” atau sosialisasi bersama kepala dinas pariwisata agar diadakannya sosialisasi terkait kebijakan apa yang harus dilakukan oleh sektor pariwisata di era new normal. Bagi daerah yang belum terjangkau secara remote, maka pemerintah akan melakukan pendekatan seperti melakukan kunjungan langsung ke tempat. 

Berdasarkan data dari KEMENPAREKRAF, kunjungan wisatawan mancanegara menurun 89,12% dibandingkan tahun lalu, kemudian bagimana sektor pariwisata menanggapi hal tersebut?

Baiknya, Sektor pariwisata harus pintar melihat peluang dan berinvoasi serta melakukan kerja sama dngan DIASPORA Indonesia yang berada di luar negeri untuk menjadi host pada virtual tour yang di lakukan di berbagai kota di dunia seperti Sydney, Perth, Swedia dan juga Jepang. Selain itu, nampaknya virtual tour tidak hanya akan booming saat era new normal saja, namun juga akan menjadi bisnis yang potensial di era berikutnya, hal tersebut terjadi karena ternyata virtual tour yang telah diadakan sebelumnya mampu menarik banyak peminat.

Kalangan anak muda bisa membantu membangkitkan sektor pariwisata Indonesia di tengah pandemi dengan cara memulai untuk mengenal dan mendukung pariwisata berkelanjutan dengan mengunjungi destinasi lokal, menjaga budaya lokal, serta melindungi alam. Mengingat banyak daerah di Indonesia yang cukup menarik untuk dikunjungi. Maka ada baiknya bagi kalian, agar mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia terlebih dahulu sebelum kemudian memutuskan untuk berwisata di luar negeri. Pastinya, tidak lupa untuk tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan saat berlibur dengan menaati protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah seperti memakai masker, membawa hand sanitizer dan menjaga jarak. Jika sudah demikian, maka kalian bisa menikmati liburan yang aman dan nyaman serta turut berkontribusi dalam membangkitkan kelumpuhan yang dialami oleh sektor pariwisata Indonesia.