WORKING FROM HOME, YES OR NO?

Share

Work From Home (WFH) atau tidak, seharusnya bukan menjadi alasan dari kualitas performa seseorang dalam menjalankan tanggung jawabnya di dalam pekerjaan. Pandemi COVID-19 telah mengubah gaya bermain dalam sebuah bisnis usaha. Bagaimana tidak, sebagian besar Perusahaan di dunia mau tidak mau dipaksa beradaptasi dengan physical distancingWork From Home, bahkan pembatasan keluar masuk barang di dalam maupun luar negeri.

Sekarang, bagi mereka yang tidak mampu cepat beradaptasi akan tergerus dengan percepatan yang terjadi di dunia bisnis.

Work From Home (WFH) menjadi normal yang baru bagi pelaku usaha terhadap para karyawannya. Sudah semenjak akhir kuartal pertama 2020 metode ini marak diuji coba oleh hampir sebagian besar Perusahaan. Bahkan Perusahaan besar seperti Google, Universal Music, Sony Music, dan Amazon telah memutuskan untuk menggunakan metode Work From Home hingga 2021 mendatang.  Lebih ekstrim lagi, Perusahaan seperti Facebook, Twitter, Slack, dan Shopify menyatakan bahwa tiap karyawan tidak perlu lagi bekerja di kantor.

Betul bahwa tiap industri tidak bisa dipukul sama rata, namun metode bekerja dari rumah ini justru terbukti tidak mengurangi produktivitas bahkan pekerjaan menjadi lebih optimal karena dapat diatur sesuai dengan kapasitas tiap individu masing-masing.

Sekarang, pertanyaan besarnya: Apa indikator Perusahaan siap dalam menjalani metode Work From Home ini?

1.Mampu memisahkan remote-able jobs dan un-remote-able jobs

Tidak dapat dipungkiri, masih banyak Perusahaan terutama di Indonesia masih memiliki peran pekerjaan yang bersifat paper work. Hal ini menyebabkan tidak mampunya melakukan pergerakan secara taktis, bahkan hampir dapat disimpulkan tidak dapat dilakukan secara remote. Belum lagi industri-industri yang masih menitikberatkan usahanya pada proses produksi oleh mesin yang dioperasikan oleh manusia secara langsung. 

Dengan memisahkan peran pekerjaan yang dapat dilakukan secara remote dan yang tidak, Perusahaan dapat lebih mudah mengatur mekanisme Work From Home berdasarkan peran-peran tersebut.

2. Menjalani kepemimpinan berbasis hubungan

Bukan berarti basis tugas menjadi tidak penting. Kualifikasi paling dasar dari Work From Home adalah kemampuan setiap individu yang dapat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya masing-masing di dalam tenggat waktu yang disepakati. Basis hubungan berarti para pemimpin siap untuk melakukan metode coaching dan mentoring lebih banyak daripada sebelumnya. Melakukan koordinasi untuk menemukan kendala yang sedang terjadi, mengatur strategi mingguan agar pekerjaan dapat dilakukan lebih produktif, membangun empati terhadap situasi yang terjadi kepada tiap individu. Dalam melakukan proses Work From Home, kualitas kepemimpinan berpengaruh sangat besar dalam keberlangsungan kesehatan mental dan produktivitas para karyawan.

3. Mampu menjalani konsep jam kerja (working hour)

Work From Home berbeda dengan remote working. Keduanya memang sama-sama melakukan pekerjaan dari luar lokasi kantor dan bisa juga dikerjakan sepanjang hari dari rumah. Namun, yang menjadi pembeda besar adalah Work From Home masih berpusat pada jam kerja kantor, sedangkan remote workingmengusung pekerjaan dengan metode waktu fleksibel.

Orang yang bekerja dengan metode remote working dapat mulai bekerja jam berapapun, namun dengan konsekuesi dapat dimintai pertanggungjawaban di jam berapapun juga.

Berbeda dengan konsep Work From Home dimana Perusahaan sebenaranya hanya dapat meminta tanggung jawab pekerja hanya di dalam jam operasional kerja, dan para pekerja tidak memiliki kewajiban untuk mengerjakan pekerjaan di luar jam operasional kerja, kecuali dengan kesepakatan Bersama.

Ada begitu banyak pekerja yang justru merasa “tidak punya waktu” saat mereka melakukan pekerjaan di rumah karena seakan dapat diminta melakukan pekerjaan jam berapapun.

4. Melihat employee engagement sebagai salah satu elemen krusial

Dalam konteks pekerjaan yang dilakukan menyebar (di kantor dan di rumah), kedekatan antar rekan kerja menjadi sangat berbeda. Jika biasanya dapat langsung bertemu secara fisik dan menyampaikan hal yang ringan secara mudah, makan siang dilakukan bersama-sama, rehat sejenak saat energi sudah mencapai batasnya, namun sekarang kedekatan semacam itu menjadi mewah rasanya. Jika tidak dilakukan apapun, Perusahaan hanya akan membiarkan para karyawannya terjebak dalam kesehatan mental yang buruk. Akibatnya, mereka tidak lagi merasa engage dengan tim maupun Perusahaan dan berujung kepada optimalisasi performa menjadi sangat dipertaruhkan.

Kegiatan employee engagement yang rutin, bersifat virtual, dan penuh dengan rasa empati akan meningkatkan sense of belonging dari pekerja lebih dari pada sebelumnya. Perusahaan membutuhkan fokus lebih tajam ke area employee engagement ini agar setiap orang yang menjadi pilar kekuatan di organisasi tetap dapat berdiri kokoh dan bahkan siap mengeluarkan yang terbaik di masa-masa sukar seperti sekarang ini.

Sudah siapkah Perusahaan tempat Anda bekerja memberlakukan metode Work From Home dan tetap memberikan performa yang optimal?

Those who can adapt well in the hard situation, will win the race.

MORE IN THIS CATEGORY