SEBERAPA BESAR DAMPAK VIRUS CORONA TERHADAP SEKTOR PENERBANGAN?

Share

Virus corona yang masih merebah hingga saat ini tentunya memberikan dampak terhadap banyak sektor. Salah satunya pada sektor penerbangan. Menyebarnya virus corona di berbagai negara membuat banyak negara memutuskan untuk lock down, salah satunya dengan cara memberhentikan sementara pergerakan maskapai penerbangan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal tersebut dilakukan guna menekan angka penyebaran virus corona. Sejak awal pemberlakuan lock down di tiap-tiap negara, telah tecatat sebanyak 17.000 pesawat terpakir di berbagai bandara di dunia. Lalu, seberapa besar dampak pandemic COVID-19 terhadap maskapai penerbangan?

Berikut kami sajikan datanya:

Financial Perfomance

Dari data di atas, kita semua bisa melihat bahwa jumlah Revenue dan Net Profit yang didapatkan oleh masing-masing maskapai penerbangan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada Q2 (April-Juni) 2019, maskapai Garuda Indonesia mendapatkan revenue dengan total IDR 27.613 yang kemudian mengalami penurunan menjadi 11.168 pada Q2 (April-Juni) 2020. Sehingga, YoY (Year on Year)menyimpulkan bahwa maskapai Garuda Indonesia mengalami penurunan sebanyak -60%. Kemudian masih dengan maskapai lokal yaitu Air Asia Indonesia, juga mengalami penurunan revenue pada Q2 (April-Juni) 2019 sebanyak IDR 2.994, turun menjadi 1.343 pada Q2 (April-Juni) 2020. Sehingga dapat dituliskan pada bagian YoY, bahwa maskapai tersebut telah mengalami penurunan sebesar -55%. Kemudian beralih ke maskapai internasional yang pertama yaitu Singapore Airlines, yang juga mengalami penurunan dari SGD 4.102 pada Q2 (April-Juni) 2019, menjadi SGD 851 pada Q2 (April-Juni) 2020, sehingga YoY yang didapat tentunya juga mengalami penurunan sebesar -79%. Beralih ke maskapai internasional yang kedua, yaitu Thai Airways. Pada tabel di atas menunjukkan bahwa pada Q2 (April-Juni) 2019, maskapai Thai Airways mendapatkan revenue sebesar THB 43.080, yang kemudian mengalami penurunan menjadi THB 9.938 pada Q2 (April-Juni) 2020. Sehingga YoY yang didapat juga mengalami penurunan sebesar -22%. 

Kemudian beralih ke Net Profit yang sama halnya mengalami penurunan. Untuk maskapai yang pertama yaitu Garuda Indonesia, pada Q2 (April-Juni) 2019, mendapatkan net profit sebesar IDR 355 miliar, yang kemudian pada Q2 (April-Juni) 2020 turun menjadi IDR (10.766). Sehingga YoY yang didapat juga menurun sebesar -3133%. Maskapai berikutnya yaitu Air Asia Indonesia, yang pada Q2 (April-Juni) 2019 mendapatkan net profit sebesar IDR 82 miliar, yang kemudian pada Q2 (April-Juni) 2020 turun menjadi IDR (909). Maka tentu saja YoY yang didapat juga mengalami penurunan sebesar -1009%. Beralih ke maskapai internasional yang pertama yaitu Singapore Airlines. Pada Q2 (April-Juni) 2019, maskapai ini mendapatkan net profit sebesar SGD 111, sedangkan pada Q2 (April-Juni) 2020 mendapati penurunan net profit menjadi SGD (1.123) yang kemudian mempengaruhi YoY yang didapat, yang berkurang sebesar -1112%. Pada maskapai internasional berikutnya adalah Thai Airways, yang juga sama mengalami penurunan net profit. Pada Q2 (April-Juni) 2019, maskapai ini mendadapatkan net profit sebesar THB 6.878., yang kemudian pada Q2 (April-Juni) 2020, menurun menjadi THB (5.353). Hingga YoY yang didapat pun menurun sebesar -22%. 

Dengan adanya hal tersebut, tentu kita semua tahu bahwa banyak maskapai yang mengalami penurunan dari sisi penjualan maupun dari laba bersihnya. Sebagai salah satu bentuk solusinya, mereka banyak melakukan PHK. Di bawah telah kami sajikan data terkait pengurangan karyawan pada maskapai penerbangan.

Perbandingan Jumlah karyawan dari Garuda Indonesia dan Air Asia Indonesia.

Dari tabel di atas, maskapai Garuda Indonesia pada Q1 (Januari-Maret) 2019 tercatat memiliki 15,781 karyawan. Kemudian pada Q2 (April-Juni) 2020 telah mengurangi sebanyak 261 karyawan hingga tersisa 15,520. Pada maskapai berikutnya yaitu Air Asia Indonesia, juga mengalami hal demikian. Pada Q1 (Januari-Maret) 2019, maskapai tersebut tercatat memiliki sejumlah 1,987 karyawan, hingga pada akhirnya mereka mengurangi 29 karyawan menjadi 1,958 pada Q2 (April-Juni) 2020.

Lalu bagaimana dengan maskapai internasional? Jawabannya adalah sama saja. Pada maskapai internasional contohnya seperti Singapore Airlines juga mengalami pengurangan karyawan. Telah tercatat sekitar 4,300 karyawan yang di rumahkan akibat dampak dari pandemi COVID-19.  Kemudian untuk maskapai Thai Airways juga mengalami hal serupa. Maskapai tersebut diketahui telah mengurangi sebanyak 3,000 atau sekitar 30% karyawannya dari jumlah total 20,000 karyawan.  Data yang disajikan diatas hanya sebagai sample dari kondisi industri penerbangan di Dunia. Industri penerbangan sendiri memang menjadi salah satu industry yang sangat terdampak dari pandemi COVID-19 ini.